TEKNOLOGI
BUDIDAYA JAGUNG MENDUKUNG PENYEDIAAN PAKAN TERNAK KAMBING DI LOMBOK
TIMUR
Bahtiar1) dan Awaludin Hipi2)
1)Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros, Sulawesi Selatan
2)Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat
ABSTRAK
Pengelolaan
tanaman jagung untuk tujuan produksi pakan dan biji dilaksanakan di Kabupaten
Lombok Timur pada tahun 2004 oleh satu tim terpadu antara peneliti Balitsereal
dengan Peneliti BPTP NTB dengan melibatkan petani sebagai pelaksana. Pengamatan baru ditujukan kepada produksi
pakan dan biji jagung untuk mengetahui potensi dukungan pakannya terhadap
penyediaan pakan ternak kambing. Hasil
penelitian menunjukan bahwa teknologi produksi biomas dari tanaman jagung mampu
menghasilkan pakan secara bertahap sebanyak 39,44 t/ha dan produksi biji kering
4,91 t/ha. Jika biomas dan hasil biji
tersebut dinilai dengan harga yang berlaku di Kabupaten Lombok Timur, petani
dapat memperoleh pendapatan sekitar 6 juta per hektar dengan hanya mengorbankan
biaya sekitar 1,3 juta per hektar dan curahan tenaga kerja sekitar 98 HOK. Cara produksi tersebut mendapat kesan yang
baik dari petani koperator, pembina masyarakat (KID) dan Petugas Pertanian
Lapangan, sedang bagi petani non koperator hal tersebut merupakan hal yang baru
dan mereka masih kebanyakan meragukan keberhasilannya.
Kata kunci: Keterpaduan
tanaman – ternak, produksi biomas dan biji kering, pendapatan usahatani.
PENDAHULUAN
Komoditas
jagung dan ternak kambing keduanya merupakan sumber pendapatan petani di
pedesaan. Kedua komoditas tersebut dapat
dikelola secara bersamaan oleh satu rumah tangga petani karena saling
menunjang. Pola integrasi tanaman – ternak telah lama dipraktekkan petani di
Indonesia dan Asia Tenggara, namun pengelolaannya masih kebanyakan bersifat
tradisionil (Diwyanto, K. dan E. Handiwirawan, 2004).
Kabupaten
Lombok Timur yang ditetapkan sebagai lokasi binaan Proyek Pengentasan
Kemiskinan (PFI3P) mempunyai potensi pertanian yang cukup baik untuk dijadikan
sebagai pengembangan teknologi integrasi tanaman – ternak karena mempunyai iklim tipe D dan E. Curah hujan pada daerah iklim tipe E rata-rata
669 mm/tahun, sedang pada daerah tipe D, curah hujan 1289 – 1640 mm/tahun. Lahannya terdiri dari 48,1% lahan kering,
sedang lahan tegalan dan sawah masing-masing 16,1 dan 28,4% (BPTP NTB, 2003). Distribusi curah
hujan berlangsung singkat yaitu 3-4
bulan dalm setahun (BPS Propinsi NTB,
2002).
Berdasarkan
hasil studi Participatory Rural Appraisal
(PRA) diperoleh informasi bahwa jenis tanaman pangan yang menjadi prioritas
adalah jagung dan jenis ternak yang banyak dipelihara oleh petani adalah
kambing (PFI3P, 2003a; PFI3P,2003 b).
Jagung
yang dapat ditanam pada berbagai tipe lahan semakin berkembang dan cenderung
menggeser komoditi tanaman pangan lainnya.
Hal ini disebabkan oleh sistem budidayanya relatif lebih mudah dan
permintaan pasar dalam negeri semakin meningkat terutama dalam memenuhi
kebutuhan industri pakan ternak. Selain
itu, tanaman jagung dapat menghasilkan biomas untuk pakan ternak dalam jumlah
cukup apabila ditata waktu tanamnya disesuaikan dengan kebutuhan ternak.
Pemeliharaan
kambing dengan sistim kandang telah lama dikerjakan petani di Lombok Timur,
walaupun dengan pemeliharaan yang tradisionil.
Kotoran kambing belum diproses menjadi pupuk organik pada hal menurut
kajian pemanfaatan pupuk organik (kotoran ternak) terhadap produksi dan
kualitas padi menunjukkan bahwa penggunaan pupuk an organik (Urea, SP36, dan
KCL) dapat dihemat sebanyak 70% dari dosis anjuran (350 – 150 – 100) dengan
penggunaan pupuk organik dan sekaligus telah dapat meningkatkan kualitas gabah
sehingga nilai jualnya tinggi.
Sebaliknya limbah padi (jerami) yang ditambahkan probiotik dapat
meningkatkan kualitas pakan sapi dan sekaligus meningkatkan laju pertumbuhan
berat badan ternak (Wardhani, N.K. dan A. Musofie, 2002; Tim Teknis, 2004).
Konsep
pengelolaan integrasi tersebut juga berpeluang besar diterapkan pada integrasi
tanaman jagung dengan ternak kambing. Teknologi produksi biomas jagung telah tersedia dan menunjukkan bahwa
dengan varietas unggul bersari bebas pada populasi tanaman 130.000 mampu
menghasilkan biomass segar sebanyak 50 t/ha, dan pada populasi 200.000 mampu
menghasilkan 70 t/ha apabila dipanen pada umur 70 hari (Akil et al., 004). Produksi biomas tersebut
jika dikaitkan dengan kebutuhan pakan ternak kambing rata-rata 5,9
kg/hari/ekor (Suprapto et al. 2002). Dengan demikian teknologi produksi biomas
jagung tersebut dapat menyediakan pakan ternak kambing dengan mengatur waktu
penanaman sehingga tersedia pakan sepanjang tahun.
TUJUAN
PENELITIAN
Penelitian ini
dirancang dengan tujuan untuk mengetahui :
1. Tingkat produksi biomass segar yang dapat
dimanfaatkan untuk pakan ternak dan produksi biji kering panen
2. Pendapatan petani baik dari nilai biomass
segar maupun dari hasil biji kering
3. Respon petani terhadap teknologi penyediaan
pakan ternak kambing
METODOLOGI
Dukungan Balai Penelitian
Tanaman Serealia (BALITSEREAL) terhadap penelitian optimalisasi sistem
usahatani ternak – tanaman pangan berbasis kambing difokuskan kepada dua
komponen yaitu : pemanfaatan benih unggul, pemupukan berimbang, dan teknologi
produksi biomas untuk pakan ternak. Ketiga komponen tersebut dipadukan dan dilaksanakan pada
lahan petani koperator. Empat kelompok
tani yang terpilih yaitu: kelompok tani di Dusun Wakan, kelompok tani
di Dusun Dalem, kelompok tani di Dusun Penjaik, dan kelompok tani di Dusun Baru masing-masing dengan luasan 0,25 ha.
Paket
teknologi budidaya yang dikembngkan adalah sebagai berikut:
a. Benih unggul yang
diintroduksi adalah varietas srikandi kuning 1 (Jagung Quality Protein Maize=QPM).
Varietas tersebut mempunyai kelebihan berupa nilai gizinya lebih baik
dibanding dengan jagung biasa.
b. Jika ditanam pada lahan
sawah tadah hujan setelah panen padi, tanah tidak perlu diolah/dibajak, tetapi
langsung ditugal (TOT). Tetapi jika
ditanam pada lahan kering pada musim penghujan, penyiapan lahan disesuaikan
dengan cara petani yaitu bajak dengan ternak.
c. Untuk menghindari
serangan penyakit bulai, benih
diperlakukan dengan saromil yaitu 1 gr saromil/kg benih. Saromil dilarutkan
dalam 1 ml air lalu dimasukkan benih jagung dan diaduk merata sampai seluruh
permukaan biji jagung terkena saromil.
d. Penanaman dengan jarak
tanam 75 cm x 40 cm, 5-6 biji perlubang.
Tanaman ditutup dengan pupuk kandang segenggam/lubang tanam.
e. Dipupuk dengan 600 kg
urea/ha, 100 kg SP36/ha. Pemupukan
pertama dilakukan pada umur 7-10 hari dengan dosis 150 kg urea/ha dicampur
dengan 100 kg SP36/ha, ditugal di sekitar rumpun tanaman. Kemudian pemupukan kedua dilakukan pada umur
20-25 hari setelah tanam dengan dosis 300 kg urea/ha. Seterusnya pemupukan ke tiga dilakukan pada
umur 40-45 hari dengan dosis 150 kg urea/ha.
f. Penyiangan dilakukan 2
kali yaitu pada umur 21 hari dan 45 hari
g.
Panen, panen
biomas segar dilakukan 4 (empat) kali yaitu :
- Memotong 2 tanaman/rumpun pada umur 30 hari,
- Memotong 1 tanaman/rumpun pada umur 42 hari
- Memotong daun bawah tongkol pada umur 60 hari
·
Memotong
batang diatas tongkol pada umur 80 hari
h.
Panen
biji kering pada saat masak fisiologi yang ditandai dengan terbentuknya black
layer pada biji jagung.
Variabel yang diamati berupa
pertumbuhan dan produksi biomass sebagai berikut
a. Produksi biomas pada
setiap periode panen (t/ha)
b. Produksi biji
kering (t/ha)
c. Respon
petani/masyarakat terhadap teknologi produksi
biomas untuk pakan kambing (menerima, menimbang, ragu, menolak)
d. Harga biomas
(pakan ternak) pada setiap periode panen dan harga jagung biji kering (Rp/kg)
e.
Biaya sarana produksi
berupa benih, pupuk, obat-obatan (Rp/ha)
f.
Biaya tenaga kerja riil yang dikeluarkan petani dalam
operasional pertanaman jagung.
Keberhasilan
penerapan teknologi produksi biomas ini dilihat dari dua sisi yaitu penerimaan
yang diperoleh dari usahatani jagung dengan analisis biaya dan pendapatan (Return Cost Ratio) dan respon masyarakat
terhadap sistem penyediaan pakan dari biomas jagung dengan analisis adopsi.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Produksi
Biomas Segar
Pada umur
30 hari dipanen dua batang per rumpun dan menghasilkan biomas segar sebanyak 19
t/ha. Kualitas biomas ini sangat baik, seratnya
masih sangat lunak sehingga sangat disukai oleh ternak kambing. Biomas yang
dipanen pada umur 30 hari dapat bertahan sampai 3 hari dan tetap masih disukai
ternak kambing. Dengan demikian
pemanenan di lapangan cukup dilakukan 2 kali semimggu disesuaikan dengan
kebutuhan ternak itu sendiri.
Pada umur
42 hari dipanen lagi satu batang per rumpun dan menghasilkan biomas 9,82 t/ha
dengan kualitas biomas segar yang hampir sama dengan biomas umur 30 hari hanya
saja sedikit bertambah kasar seratnya.
Selanjutnya pada umur 60 hari
ketika telah terjadi pembuahan daun bawah tongkol dari tanaman yang
tersisa (2 tanaman per rumpun) rata-rata 3-4 helai daun per tanaman, dapat
menghasilkan biomas sebanyak 6,31 t/ha dengan kualitas yang lebih jelek
dibanding dengan panen pertama dan kedua.
Selera kambing untuk mengkonsumsi biomas ini tidak sebaik dengan biomas
panen pertama dan kedua, namun tetap saja mengkonsumsinya. Terakhir, pada umur
80 hari panen biomas ke empat adalah batang diatas tongkol dipotong, menghasilkan
biomas sebanyak 4,31 t/ha dengan kualitas hampir sama dengan biomas daun bawah
tongkol yaitu seratnya kasar dan agak keras sehingga tidak terlalu disenangi
oleh ternak kambing (Tabel 1).
Tabel 1 .
Produksi biomass segar dan biji pada penelitian di Lombok Timur, 2004
|
No
|
Uraian
|
Umur (hst)
|
Produksi
(t/ha)
|
Harga1)
(Rp/kg)
|
Nilai
(Rp/ha)
|
|
1
|
Panen 2 tanaman /lubang
|
30
|
19,00
|
75
|
1.425.000
|
|
2
|
Panen 1 tanaman/lubang
|
42
|
9,82
|
75
|
736.500
|
|
3
|
Panen daun bawah tongkol
|
60
|
6,31
|
75
|
473.250
|
|
4
|
Panen batang diatas tongkol
|
80
|
4,31
|
75
|
323.250
|
|
5
|
Panen biji / tongkol
|
115
|
4,91
|
1.150
|
5.646.500
|
|
|
Jumlah
|
8.604.500
|
|||
1) Dikonversi dari harga pakan di kota Lombok
Timur yaitu Rp.1.500/ikat isi sekitar 50 batang jagung dengan berat 20 kg.
Hasil
analisa laboratorium terhadap kandungan gizi pakan yang dihasilkan menunjukkan
bahwa protein kasar dan jumlah kalori
yang terkandung di daun lebih tinggi dibanding dengan di batang. Sebaliknya serat kasar
lebih tinggi di batang dari pada di daun. Data tersebut menunjukkan bahwa pakan
dari limbah jagung QPM mengandung gizi yang cukup baik dibanding dengan jagung
biasa. Pada jerami jagung biasa hanya
mengandung 7,4% protein dan 27,8% serat kasar (Direktorat Bina Produksi Tanaman
Pangan, 2002) jauh lebih sedikit dibanding dengan pada jagung QPM (Tabel 2).
Tabel 2. Hasil uji kandungan gizi dari batang dan daun
jagung di Kabupaten Lombok Timur, 2005
|
Bagian
tanaman
|
Protein
kasar %
|
Serat
kasar (%)
|
Kalori
(Cal/gr)
|
|
Batang
Daun
|
8,40
13,12
|
35,11
25,65
|
2933,50
3143,84
|
Sumber
: Laboratorium BPTP NTB No. Data Hasil Analisa:006/DHA-LAB/TN/III/2005
Jika
seluruh biomas yang dipanen tersebut dinilai dengan harga yang berlaku di kota
Lombok Timur yaitu Rp.1500 per ikat (50 batang dengan berat 20 kg) equivalen
dengan Rp.75/kg, maka produksi biomas dapat memberikan penerimaan sebanyak
Rp.2.958.000/ha dengan korbanan tenaga
keluarga untuk melakukan panen sebanyak 30 HOK (Tabel 3).
Tabel
3. Biaya produksi pada penelitian di
Lombok Timur, 2004
|
No
|
Uraian
|
Jumlah
|
Harga
(Rp/satuan)
|
Nilai
(Rp/ha)
|
|
1
|
Saprodi
· Benih jagung
· Saromil
· Urea
· SP36
|
45
10,5
600
100
|
7.000
4.500
1.300
1.750
|
1.317.250
315.000
47.250
780.000
175.000
|
|
2
|
Tenaga kerja
|
HOK
|
Biaya riil yang dikeluarkan (Rp)
|
|
|
|
· Pengolahan tanah
· Penanaman
· Pemupukan
· Penyiangan
· Panen biomass
· Panen biji
|
0
7
21
30
30
10
|
450.000
100.000
100.000
|
|
|
Jumlah biaya tenaga kerja
|
98
|
650.000
|
||
Penggunaan tenaga kerja tersebut
masih jauh lebih rendah dibandingkan tenaga yang digunakan dalam mencari pakan
secara bebas di alam/hutan karena selain jaraknya jauh, juga harus mencari dan
menelusuri pematang sawah atau pinggir-pinggir pagar di kebun. Cara penyediaan pakan demikian memberikan
beberapa keuntungan antara lain: hemat tenaga kerja keluarga dalam menyediakan
pakan untuk ternak kambing, petani mendapatkan pakan tanpa harus mengorbankan
produksi biji jagungnya, ternak kambing dapat terjamin pakannya.
Produksi Biji Kering
Selain
produksi pakan untuk ternak kambing, teknologi ini juga masih memproduksi biji
kering. Hasil yang dicapai rata-rata dari
petani koperator adalah 4,31 t/ha.
Tingkat produksi ini dinilai cukup tinggi dan mampu melebihi dua kali
lipat dari produktivitas jagung NTB yaitu hanya 2,02 t/ha (BPS, 2002).
Analisis
usahatani menunjukkan bahwa pengelolaan ushatani jagung dengan orientasi
produksi biomas untuk pakan ternak dan biji cukup menjanikan dengan nilai rasio
penerimaan – biaya mencapai 4,37 yang berarti cukup menguntungkan dan layak
dikembangkan sebab usahatani jagung dikatakan layak secara finansial
dikembangkan apabila profitabilitasnya minimal 20% atau rasio penerimaan –
biaya minimal 1,20 (Simatupang, 2002).
Secara kuantitatif dengan asumsi biomas yang dihasilkan dinilai dengan
harga pakan yang berlaku di kota Lombok Timur maka pendapatan petani mencapai
Rp. 6.6375.000/ha (Tabel 4).
Tabel 4.
Analisi biaya dan pendapatan pada penelitian di Lombok Timur, 2004
|
No
|
Uraian
|
Jumlah
(Rp/ha)
|
|
1.
|
Penerimaan dari biomass segar dan biji kering
|
8.604.500
|
|
2.
|
Biaya saprodi (Benih, pupuk, dan obat-obatan)
Biaya Tenaga kerja yang riil dibayarkan petani
|
1.317.250
650.000
|
|
3.
|
Pendapatan
|
6.637.250
|
|
4.
|
R/C-ratio
|
4,37
|
Upaya mencari umpan balik dari
teknologi produksi biomas dan biji dilakukan dengan menghimpun pendapat/respon
komponen masyarakat yang terdiri atas petani yang melaksanakan pengujian
(koperator), petani yang menyaksikan pengujian tersebut (non koperator),
Petugas Pertanian Lapangan (PPL), dan tokoh masyarakat yang memperhatikan
pembangunan masyarakatnya (KID).
Responnya menunjukkan bahwa dari 5 petani koperator, 4 diantaranya
menyatakan teknologi tersebut menguntungkan dan 1 diantaranya masih meragukan
karena percobaan yang dikerjakan kurang berhasil. Kemudian dari pihak pemerintah yaitu petugas yang ditunjuk merancang
pembangunan masyarakat mengatakan bahwa teknologi tersebut sangat baik dan
menguntungkan petani. Sedangkan petani
yang berada di sekitar percobaan dan melihat langsung di lapangan beberapa
diantranya berada pada tahap menilai dan
beberapa lainnya masih meragukan keberhasilannya (Tabel 5).
Tabel
5. Respon petani terhadap teknologi
penyediaan pakan ternak pada penelitian di Timur, 2004.
|
No
|
Penilai/Pemberi Respon
|
Respon1)
|
|||
|
Menerima
|
Menilai
|
Ragu
|
Menolak
|
||
|
1.
2.
3.
4.
|
Petani koperator ( n = 5)
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) (n = 2)
Komite Investasi Desa (KID) (n = 1)
Petani non koperator (n = 10)
|
4
2
1
0
|
0
0
0
5
|
1
0
0
5
|
0
0
0
0
|
1) Menerima : Telah
mengakui keunggulan dan kebaikannya dan akan berusaha menerapkan apabila
lingkungan sekitarnya mendukung.
Menilai : Mereka
baru pada tahap menghitung untung ruginya jika menerapkan, apakah potensi
modalnya mendukung atau tidak.
Ragu : Mereka
lebih cenderung tidak menerapkan dari pada menanggung resiko kegagalan.
Menolak : Telah
mengambil keputusan bahwa lebih banyak kerugiannya dari pada keuntungannya.
DAFTAR PUSTAKA
Akil M., Evert Y. Hosang dan A. Najamuddin, 2004. Interaksi varietas dan populasi tanaman
jagung terhadap produksi biomas dan biji pada lahan kering di Naibonat. Makalah disampaikan pada Seminar Mingguan
Balitsereal, Desember, 2004.
BPS , 2002. Propinsi Nusa Tenggara Barat dalam Angka.
BPTP NTB, 2003. Laporan Hasil PRA pada Desa-desa Poor Farmer
di Kabupaten Lombok Timur. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat.
Ditjen Bina Produksi Tanaman
Pangan, 2002. Informasi dan peluang agribisnis jagung. Direktorat Serealia Jakarta.
Diwyanto, K dan Handiwirawan,
2004. Peran Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian dalam mendukung usaha agribisnis pola integrasi tanaman
– ternak. Dalam Haryanto et al. 2004
(Peny). Sistem Integrasi Tanaman –
Ternak. Prosiding Seminar Nasional,
Denpasar 20-23 Juli 2004.
PFI3P, 2003a. Panduan
perencanaan penelitian dan pengkajian pengembangan inovasi pertanian di lahan marjinal. Badan Litbang
Pertanian.
PFI3P,2003c. Konsep
awal inovasi teknologi mendukung pengembangan agribisnis pertanian
lahanmarjinal. BadanLitbang Pertanian.
Simatupang P., 2003. Daya saing
dan efisiensi usahatani jagung hibrida di Indonesia. Dalam Kasryno, E.Pasandaran, dan A.M. Fagi,
2003 (Peny). Ekonomi Jagung Indonesia. Badan Litbang Pertanian, Jakarta.
Suprapto, Slamet, Surachman, dan
A. Prabowo, 2002. Analisis pendapatan usahatani lada integrasi ternak camping. Dalam Haryanto et al. 2004 (Peny). Sistem
Integrasi Tanaman – Ternak. Prosiding
Seminar Nasional, Denpasar 20-23 Juli 2004.
Tim Teknis, 2004. Review teknologi petanian untuk lahan kering
dan tadah hujan (marjinal). Poor
Farmers’ Income Improvement through Innovation Project. Badan Litbang
Pertanian.
Wardhani, N.K. dan A. Musofie,
2004. Kajian sistem pertanian organik dalam integrasi ushatani padi – sapi
potong. Dalam Haryanto et al. 2004 (Peny). Sistem Integrasi Tanaman – Ternak. Prosiding Seminar Nasional, Denpasar 20-23
Juli 2004.